Tampilkan postingan dengan label Berita Forex. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Forex. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Oktober 2018

Facebook Mengumumkan Pimpinan Instagram yang Baru



Facebook pada hari Senin mengumumkan Adam Mosseri akan mengambil alih sebagai kepala Instagram menyusul pengunduran tiba-tiba dari rekan pendiri Kevin Systrom dan Mike Krieger pekan lalu.

Mosseri telah menjadi kepala produk Instagram sejak awal tahun ini dan sebelumnya memimpin divisi News Feed perusahaan. Mosseri akan segera memerintah di Instagram, seorang juru bicara Instagram mengatakan kepada CNBC.

"Kami sangat senang untuk menyerahkan kendali kepada pemimpin produk dengan latar belakang desain yang kuat dan fokus pada kerajinan dan kesederhanaan - serta pemahaman mendalam tentang pentingnya komunitas," Systrom dan Krieger mengatakan dalam sebuah pernyataan.

--article--

Systrom dan Krieger mengumumkan pengunduran diri mereka dari perusahaan minggu lalu, lebih dari enam tahun setelah Facebook mengakuisisi perusahaan yang mereka dirikan sebesar $ 1 miliar. Keberangkatan mereka datang setelah tumbuh frustrasi dengan Chief Executive Facebook Mark Zuckerberg karena meningkatnya gangguan dengan arah aplikasi foto-sharing, menurut berbagai laporan pekan lalu.

Mosseri telah naik pangkat raksasa jejaring sosial sejak bergabung dengan perusahaan tersebut sebagai desainer produk pada 2008. Selama waktunya dengan Facebook, Mosseri juga menjabat sebagai direktur desain untuk aplikasi seluler perusahaan dan kemudian memimpin divisi Feed Berita. Dia telah menjadi kepala produk Instagram sejak Mei.

"Saya merasa rendah hati dan bersemangat tentang peluang untuk memimpin tim Instagram," kata Mosseri dalam sebuah pernyataan.

Pada kesempatan yang sama Saham Facebook turun sedikit lebih dari 1 persen pada hari Senin lalu.

Amazon menaikkan upah minimum menjadi $ 15 untuk semua karyawan AS

Amazon mengumumkan Selasa adalah upah minimum untuk semua karyawan AS hingga $ 15, efektif bulan depan.

Upah minimum baru akan menguntungkan lebih dari 250.000 karyawan Amazon - termasuk karyawan paruh waktu dan sementara - serta 100.000 karyawan musiman, kata perusahaan itu. Beberapa karyawan yang sudah menghasilkan $ 15 per jam juga akan melihat kenaikan gaji.

Amazon mengatakan efek dari pembayaran yang lebih tinggi akan tercermin dalam panduan triwulanannya yang memandang ke depan. Saham Amazon diperdagangkan sedikit lebih rendah pada Selasa pagi.

Perusahaan dan CEO Jeff Bezos telah menghadapi kritik karena perbedaan pembayarannya. Senator Bernie Sanders, bulan terakhir dari undang-undang yang diperkenalkan yang disebut Bezos Act, untuk membebankan pajak kepada perusahaan untuk setiap dolar, bahwa mereka memiliki pekerja dengan upah rendah yang menerima dalam tunjangan kesehatan pemerintah atau kupon makanan.

"Hari ini saya ingin memberikan kredit di mana kredit jatuh tempo," kata Sanders dalam menanggapi pengumuman tersebut. "Apa yang dilakukan Mr. Bezos hari ini adalah ratusan ribu karyawan Amazon, itu bisa baik, dan saya pikir itu akan, mendengar tembakan ke seluruh dunia."

Amazon mengatakan akan mulai dengan upah minimum.

Pembayaran awal Amazon bervariasi berdasarkan lokasi - $ 10 per jam di gudang di Austin, Texas, misalnya, dan $ 13,50 per jam di Robbinsville, New Jersey. Untuk 2017, karyawan median Amazon mendapatkan hanya di bawah $ 28.500, menurut pengajuan perusahaan. Bezos memperoleh $ 1,7 juta.

Amazon adalah minimum £ 10,50 ($ 13,61) untuk pekerja di London dan £ 9,50 ($ 12,31) di seluruh negara.

"Kami mendengarkan kritik kami, berpikir keras tentang apa yang ingin kami lakukan, dan memutuskan kami ingin memimpin," kata Bezos dalam sebuah pernyataan. "Kami senang dengan perubahan ini dan mendorong pesaing kami dan pengusaha besar lainnya untuk bergabung dengan kami."

Saingan Ritel Target diumumkan dalam rilis rilis liburannya akan menaikkan upah minimum per jam menjadi $ 15 pada tahun 2020. Walmart mengumumkan rencana pada bulan Januari untuk menaikkan upah minimumnya menjadi $ 11.

Pengumuman itu datang menjelang dorongan mempekerjakan liburan tahunan Amazon. Tahun lalu raksasa e-commerce mengatakan akan mempekerjakan 120.000 karyawan sementara untuk musim liburan.

Pada bulan Agustus, pertumbuhan upah nasional membukukan peningkatan terbesar pemulihan ekonomi, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja. Penghasilan payroll mengalahkan ekspektasi dan tingkat pengangguran bertahan di dekat rendah generasi 3,9 persen - membuat liburan mempekerjakan lebih ketat bagi banyak pengecer.

Bursa Korea Selatan Libur, Bursa Australia Bergerak Menguat

Jakarta, Bursa saham Australia bergerak naik pada sesi perdagangan pagi hari Rabu (3/10/2018) sementara bursa Korea Selatan tutup hari ini karena libur nasional.

Indeks ASX 200 menguat 0,12% menjadi 6.133,5 setelah pembukaan perdagangan, menurut data CNBC International pukul 7.52 WIB.
Sebelumnya, bursa Jepang dibuka terkoreksi akibat aksi ambil untung (profit taking) investor setelah indeks acuannya menembus rekor tertinggi dalam 27 tahun terakhir.

Nikkei 225 dibuka terkoreksi 0,18% menjadi 24.226,5 sementara indeks Topix turun 0,15% ke 1.821,36, AFP melaporkan.

Bursa Jepang Dibuka Melemah, Ada Aksi Take Profit

Jakarta, Bursa Jepang dibuka melemah pada perdagangan hari Rabu (3/10/2018) akibat aksi ambil untung (profit taking) oleh investor setelah indeks acuan Nikkei 225 berhasil menembus rekor tertinggi dalam 27 tahun terakhir.

Nikkei 225 dibuka terkoreksi 0,18% menjadi 24.226,5 sementara indeks Topix turun 0,15% ke 1.821,36, AFP melaporkan.

“Aksi ambil untung terus meningkat dan sepertinya bursa saham akan menjadi tenang,” tulis Okasan Online Securities dalam sebuah catatan riset.

Para investor juga menantikan data perkembangan tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang akan diumumkan akhir pekan ini, menurut para analis.
Saham-saham perusahaan eksportir blue chip Jepang diperdagangkan melemah. Toyota turun 1,39%, Honda anjlok 2,66%, Sony terkoreksi 1,62%, sementara Panasonic tergelincir 1,67%.

Dini hari tadi, Wall Street ditutup bervariasi. Dow Jones Industrial Average melompat naik 0,46% atau 122,73 poin ke 26.773,94 namun indeks S&P 500 ditutup turun tipis 0,04% ke 2.923,43 dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,47% menjadi 7.999,55.

Optimisme Perdagangan : Dow Jones Cetak Rekor

Jakarta, Salah satu indeks acuan Wall Street, Dow Jones Industrial Average, menembus rekor tertinggi baru pada perdagangan hari Selasa (2/10/2018) menyusul optimisme para pelaku pasar mengenai situasi perdagangan global.

Indeks beranggotakan 30 saham itu ditutup melompat 0,46% atau 122,73 poin ke 26.773,94 untuk kali pertama sejak 21 September lalu. Penguatan ini didorong oleh kenaikan saham Intel lebih dari 3,5% dan Boeing yang menyentuh harga tertinggi sepanjang sejarah, CNBC International melaporkan.

Namun, indeks S&P 500 ditutup turun tipis 0,04% ke 2.923,43 dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,47% menjadi 7.999,55.

Saham Amazon turun 1,6% setelah perusahaan mengumumkan akan menaikkan upah minimum seluruh pekerjanya di Amerika Serikat (AS) menjadi US$15 (Rp 223.500) per jam. Sementara itu, saham Facebook yang baru saja terkena skandal peretasan anjlok hampir 2%.
Saham-saham mulai bergerak menguat setelah Kanada bergabung dengan AS dan Meksiko dalam kesepakatan perdagangan baru yang akan menggantikan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) yang berulang kali diprotes Presiden AS Donald Trump. Kesepakatan baru itu akan diberi nama Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA).
“Reaksi pasar menunjukkan bahwa investor kini tidak terlalu mencemaskan perang dagang,” kata Jennifer Ellison, principal di BOS. “Ini lebih kepada tanda kelegaan.”

Boeing dan Caterpillar, yang sangat terekspos oleh perdagangan global, melompat masing-masing 1,1% dan 1,7% hari Selasa.

Investor kini menantikan perkembangan perseteruan dagang antara AS dan China yang masih juga belum menunjukkan kemajuan berarti.

Selain itu, kecemasan terkait kondisi politik dan ekonomi Italia membatasi gerak penguatan Wall Street.
Pemerintah Italia telah menetapkan target defisit anggaran 2019 berada di 2,4% atau sekitar tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan angka yang diharapkan Uni Eropa (UE). Investor khawatir akan tingginya utang pemerintah Italia.

Di lain pihak, Kepala Perekonomian Partai Liga Claudio Borghi berkata dirinya yakin sebagian besar masalah ekonomi negara itu akan selesai bila kembali menggunakan mata uangnya sendiri.

Selasa, 02 Oktober 2018

Wow, Harga Minyak Hari ini Sudah Tembus US $85 / barel!

Jakarta, Harga minyak jenis brent kontrak pengiriman Desember 2018 naik 0,06% ke level US$85,03/barel hingga pukul 10.00 WIB, pada perdagangan hari Selasa (2/10/2018). Di waktu yang sama, harga minyak jenis light sweet kontrak November 2018 juga menguat 0,33% ke level US$75,55/barel.

Dengan pergerakan tersebut, harga minyak kompak menguat selama 4 hari berturut-turut. Harga brent yang menjadi acuan di Eropa kembali mencetak rekor tertingginya baru dalam 4 tahun terakhir, atau sejak November 2014.

Namun, kini harga light sweet yang menjadi acuan di Amerika Serikat (AS) sukses mengekor rekor yang dicetak brent. Harga light sweet berhasil menembus level US$75/barel untuk pertama kalinya dalam 4 tahun terakhir.


Sentimen positif yang menjadi pendorong harga sang emas hitam hari ini masih datang dari kekhawatiran pelaku pasar terhadap sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Iran yang akan menyasar sektor perminyakan pada November mendatang.

Per 4 November, Washington meminta pembeli minyak mentah dari Iran (khususnya mitra AS) untuk memangkas pembelian dari Iran hingga ke titik nol. Ancamannya adalah barang siapa yang berbisnis dengan Iran, maka tidak bisa berbisnis dengan Negeri Adidaya.

Sanksi ini berpotensi mengurangi pasokan minyak di pasar dunia. Pada puncaknya di 2018, Iran mengekspor 2,71 juta barel/hari, hampir 3% dari konsumsi harian minyak mentah global. Namun, mengutip data Refinitiv Eikon, ekspor Iran di September kini hanya tinggal 1,9 juta barel/hari, atau level terendahnya sejak pertengahan 2016.

Di sisi lain, banyak pihak meragukan Saudi dan kolega mampu menutupi hilangnya pasokan yang besar dari Negeri Persia.

Teranyar, survei Reuters menemukan bahwa Organisasi Negara-negara Pengeskpor Minyak (OPEC) hanya mampu meningkatkan produksi minyak secara terbatas pada bulan September. Disrupsi pengiriman dari Iran impas dengan naiknya produksi di Libya, Arab Saudi, dan Angola.
Secara total, OPEC memompa minyak sebesar 38,25 juta barel/hari pada September, naik 90.000 barel/hari dari capaian Agustus, dan merupakan level tertingginya di tahun ini.

Namun, akibat kejatuhan pasokan dari Iran (ditambah Venezuela), tingkat kepatuhan anggota OPEC terhadap kesepakatan pemangkasan produksi meningkat menjadi 128% per September, naik dari 122% di Agustus. Artinya, sejauh ini sebenarnya belum ada peningkatan produksi yang signifikan dari OPEC.

Sementara, harga minyak AS juga kini mendapatkan suntikan energi positif dari AS dan Kanada yang akhirnya berhasil menyepakati kerangka baru Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA). yang diberi nama The United States-Mexico-Canada Agreement (USMCA).

Kesepakatan USMCA tersebut membawa angin segar bagi si emas hitam. Damai dagang di Amerika Utara diharapkan mampu mendongkrak permintaan energi, apalagi salah satu kesepakatan yang dicapai adalah di bidang otomotif. Kenaikan permintaan tentu akan mengerek harga ke atas.

Dolar AS Terhadap Indonesia Rupiah Menanjak Level Rp 15.000?

Jakarta, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah. Bahkan rupiah menyentuh titik terlemahnya sepanjang tahun ini dan sejak Juli 1998 kala Indonesia berkubang dengan krisis moneter (krismon).

Pada Selasa (2/10/2018) pukul 08:43 WIB, US$ 1 dihargai Rp 14.970 di pasar spot. Rupiah melemah 0,44% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Putera Satria Sambijantoro, Kepala Ekonom Bahan Sekuritas, menyatakan depresiasi rupiah sebenarnya agak janggal. Sebab arus modal masih terus masuk ke Indonesia.

Di pasar saham, investor asing membukukan beli bersih Rp 337,9 miliar pada perdagangan kemarin. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah pun turun lumayan tajam, pertanda harga sedang naik akibat tingginya permintaan.
Oleh karena itu, Satria menilai pelemahan rupiah kali ini lebih disebabkan psikologis pasar. Dolar AS di level Rp 14.900, menurutnya, memang agak rawan ‘digoyang’ untuk menembus level psikologis baru.

“Biasanya kalau (dolar AS) di level Rp 14.900 memang rawan dimainkan spekulan yang coba menembus level psikologis. Jadi pelemahan ini tidak dipengaruhi oleh fundamental domestik,” tegasnya.

Selepas Rp 14.900, tentunya level psikologis baru tersebut ada di Rp 15.000. Dengan minimnya sentimen positif dari dalam negeri, rupiah kini sepenuhnya menggantungkan nasib kepada intervensi Bank Indonesia (BI).

Sesi Perdagangan Pagi ini Bursa Australia dan Korsel Menghijau

Jakarta, Bursa saham Australia dan Korea Selatan bergerak di zona positif pada awal perdagangan hari Selasa (2/10/2018) sejalan dengan bursa-bursa global lainnya.
Indeks ASX 200 di Australia menguat 0,12% menjadi 6.179,4 sementara indeks Kospi di Korea Selatan naik tipis 0,06% ke 2340,37, menurut data CNBC International pukul 7.23 WIB.

Sesaat sebelumnya, bursa Jepang dibuka menguat dan melanjutkan reli yang telah berlangsung lebih dari seminggu.
Indeks acuan Nikkei 225 melompat 0,5% ke posisi 24.367 di awal perdagangan sementara indeks Topix melesat 0,6% ke level 1.828,85, AFP melaporkan.
Nikkei kembali dibuka menguat pada perdagangan hari Selasa setelah menutup perdagangan hari sebelumnya di posisi tertinggi dalam 27 tahun terakhir atau sejak November 1991.

Indeks Hang Seng Koreksi 0,26% Selepas Libur

Jakarta, Pasca kemarin diliburkan seiring dengan perayaan National Day, pada hari ini indeks Hang Seng dibuka melemah 0,26% ke level 27.788,52. Sementara itu, bursa saham China masih diliburkan seiring dengan perayaan National Day Golden Week.

Sentimen negatif bagi bursa saham Hong Kong datang dari rilis data ekonomi di China. Pada hari minggu (30/9/2018), data Caixin Manufacturing PMI periode September diumumkan di level 50, lebih rendah dari konsensus yang sebesar 50,5.

Nampaknya, perang dagang yang tengah berlangsung dengan AS sudah mempengaruhi aktivitas ekonomi di Negeri Panda. Tak hanya China, perekonomian AS pun terlihat juga sudah mulai terdampak.


Data ISM Manufacturing PMI periode September diumumkan di level 59,8, lebih rendah dari ekspetasi yang sebesar 60,1. Selain itu, investor di bursa saham Hong Kong juga nampak bermain aman sembari menantikan rilis data pertumbuhan penjualan barang-barang ritel periode Agustus.